Jumat, 24 Desember 2010

GANG SADEWA - BWJF 2010



GANG SADEWA

“GRUP MUSIK PENGUSUNG WORLD MUSIC DI BWJF 2010”
OLEH Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik UNPAS)


+++++
        Dalam pergelarannya di hari keduanya (07/11/2010)  kali ini, event Bandung World Jazz Festival (BWJF) 2010  yang juga mengusung tema “Sound Through The Dimension” ini menampilkan sebuah grup musik yang mengangkat unsur-unsur etnis Nusantara di dalam musiknya, yaitu Gang Sadewa. Terdiri dari tujuh orang personil diantaranya adalah Felix, Irfaq, Heriyana, Ansori, Anon, Putri dan Memet yang mayoritas memiliki latar belakang pendidikan musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Melalui latar belakang inilah, Gang Sadewa yang di komposeri oleh Memet Chairul Slamet yang juga memainkan Instrumen Suling dan juga Flute ini berusaha menampilkan sebuah jenis musik yang merupakan perpaduan dari beragam unsur bunyi yang dihasilkan oleh Instrumen Tradisional dan Juga Instrumen Modern, lalu kemudian dipersatukan serta di eksplorasi ke dalam sebuah ruang wilayah musik yang memiliki bentuk baru, sehingga menghasilkan sebuah jenis musik yang memiliki ciri khas dan identitas tersendiri (baca: World Music)  di dalam penyajiannya. Sebuah komposisi yang berasal dari bunyi-bunyi khas ini pula yang menjadi kekuatan utama dari Gang Sadewa dalam penampilannya di event BWJF 2010 kali ini. Tampil dengan membawakan tiga buah lagu, Gang Sadewa memainkan komposisi yang berasal dari bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh Instrumen seperti Tetabuhan yang berbentuk kecil (terdiri dari tiga silinder), Tetabuhan Besar (terdiri dari tiga buah silinder), Suling, Flute, Piano Elektrik, Kecapi, Bass Elektrik, Instrumen tradisional Kenong dan juga Instrumen perkusi seperti Djembe.
            Di lagu pertamanya, Gang Sadewa melalui Memet sebagai ‘leader’ nya berusaha mengajak penonton yang hadir untuk bersama-sama ‘berdoa’ demi memperingati korban bencana alam, yaitu meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta yang tak lain adalah tempat di mana Gang Sadewa berasal. Melalui alunan vokal yang dinyanyikan oleh Putri yang juga memiliki kesan sakral dan mistis ini, Gang Sadewa  seakan mengajak penonton yang hadir saat itu, untuk ikut merasakan ‘derita’ dari korban bencana Merapi melalui aransemen serta komposisi lagu yang berasal dari Instrumen Kecapi, Flute, Kenong, Tetabuhan kecil dan Tetabuhan besar serta Bass Elektrik yang dimainkan pada lagu pertama ini oleh Memet dkk. Alhasil suasana panggung dan penonton saat itu berubah menjadi hening dan emosional serta memiliki kesan yang sakral seiring penampilan mereka di lagu pertama-nya ini.
            “Song Forest”, adalah merupakan judul lagu kedua yang dibawakan oleh Gang Sadewa pada keikutsertaannya di event BWJF 2010 kali ini. Lagu ini bercerita mengenai hutan Indonesia yang ‘hancur’ oleh tangan ‘jahil’ dan sifat ‘jahat’ yang ada dalam diri manusia terhadap lingkungan hidup dan alam sekitar. Diawali dengan iringan ritmik perkusi yang dihasilkan oleh Instrumen Tetabuhan, kemudian disambut oleh tiupan Suling dan Flute, yang dimainkan oleh Memet sebagai melodi utamanya. Unsur Etnik pun semakin terasa manakala Instrumen Kenong dibunyikan mengikuti ritmik yang dihasilkan oleh Instrumen Tetabuhan dan juga oleh Putri  yang kali ini memainkan Instrumen Djembe. Balutan suasana kontemporer pun hadir melalui Improvisasi alunan melodi dan sound dari Instrumen Piano Elektrik yang dipadukan dengan ‘groove’ dari Instrumen Bass Elektrik. Hingga akhirnya menjelang akhir dari lagu kedua ini, Memet dkk, memainkan melodi secara bersama-sama (baca: Solis) sebagai penutup.
            Di akhir penampilannya, Gang Sadewa membawakan sebuah lagu yang berjudul “Paseban”. Yaitu sebuah lagu yang menceritakan tentang suasana ‘Gemah Ripah Roh Jinawi’ atau yang berarti juga bertahan pada wilayah ketentraman dari suasana batin. Hal ini diutarakan langsung oleh Memet sesaat sebelum Gang Sadewa tampil di lagu penutupnya kali ini. Dibawakan dengan tempo yang sedang, serta perasaan emosional yang tinggi dari para personilnya, Gang Sadewa berusaha menterjemahkan ‘World Music’ ke dalam bentuk komposisi modern dan unik yang dibalut dengan unsur etnik Nusantara, kemudian dipadukan secara harmonis dalam pola ritme dengan menggunakan skala nada Diatonis dan Pentatonik Salendro yang dihasilkan oleh tiupan Flute dari Memet, juga oleh permainan solo improvisasi serta melodi pada Piano Elektrik yang kali ini menggunakan pemilihan sound jenis ‘Brass’. Tata cahaya panggung pun ikut berubah seiring perubahan tempo yang dimainkan oleh Memet dkk, yang kali ini banyak menggunakan nada ‘Triol’ pada pola ritmiknya. Melalui kesepakatan bunyi yang dihasilkan oleh Gang Sadewa , seakan seiring sejalan dengan tema “Sound Through The Dimension” yang diusung oleh event BWJF 2010 kali ini. Sungguh sebuah karya baru dan Inovatif yang layak untuk dinikmati.

JOAN and THE JESSELTONE - BWJF 2010



JOAN AND THE JESSELTONE


“SEBUAH KOLABORASI APIK DI BWJF 2010”
OLEH  Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik UNPAS)


+++++

        Di hari kedua pergelarannya, event Bandung World Jazz Festival (BWJF) 2010 yang diadakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung kali ini (07/11/2010), menampilkan sebuah grup musik yang berasal dari negeri yang ‘se-rumpun’ dengan kita, yakni Joan And The Jesseltone (Malaysia). Tampil membawakan sekitar tiga buah lagu, dengan mengusung jenis musik Funk dan Swing, mereka mampu menghadirkan aroma dan nuansa Jazz yang kental serta didukung oleh kemampuan bermusik yang matang dari setiap personilnya.

        Tak perlu diragukan lagi kemampuan mereka di dalam memainkan musik Jazz, dibuktikan lewat penampilan mereka di lagu pertama yang berjudul “You Know, I need You”. Dengan membawa personil sebanyak enam orang yang terdiri dari, Ame pada Instrumen Bass Elektrik, Indra pada Instrumen Gitar Elektrik, Tan pada Instrumen Piano Elektrik, Bob pada Drum, Joan pada Vokal dan Iman pada Instrumen Saxophone Tenor. Di lagu pertama-nya ini Joan And The Jesseltone membawakan aransemen mereka dalam bentuk musik Funk yang dimainkan dalam tempo sedang. Disertai dengan Solo Improvisasi Drum oleh Bob yang ada di pertengahan lagu, semakin menunjukkan ‘kebolehan’ mereka di dalam memainkan musik jazz.

         Berbeda dengan aransemen sebelumnya, di lagu kedua yang memiliki judul “Aku Bukan Boneka” ini, Joan And The Jesseltone menampilkan bentuk musik Swing dan Blues. Dengan jangkauan nada vokal Tenor serta menampilkan gaya bernyanyi dan warna vokal ‘bluesy’ yang terdengar cenderung berat, sang vokalis berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya bersama Joan And The Jesseltone di BWJF 2010 kali ini. Yang menarik adalah, di saat pertengahan lagu, secara sengaja mereka menaikkan tempo, serta merubah bentuk irama musik yang tadinya ‘Swing’ menjadi ‘Bebop’ pada aransemen di lagu kedua ini. Ditandai dengan perubahan ‘beat’ Drum yang dimainkan oleh Bob dan ‘Running’ Bass yang dimainkan oleh Ame. Solo Improvisasi pun ditampilkan secara bergilir dimulai dari Indra pada Gitar, Ame pada Bass, Bob pada Drum, Joan pada Vokal, serta tak ketinggalan oleh Iman pada Saxophone Tenor. Alhasil penonton yang hadir pun, tampak puas melihat permainan mereka saat itu.

        Pada penutupannya, Joan And The Jesseltone membawakan lagu yang berjudul “Happy People”, dengan bentuk irama musik Funk yang dibawakan dengan cukup baik dan matang. Ada yang beda dengan penampilan terakhir mereka kali ini, yakni hadirnya seorang Saxophonist Alto muda asal Indonesia yang bernama Irul Nasution yang tergabung di dalam grup Prabumi. Irul bersama Instrumen Saxophone-nya mampu memberikan warna tersendiri di saat ia melakukan kolaborasi dengan Joan And The Jesseltone kali ini di BWJF 2010. Sesuai dengan judul lagunya, kesan ‘happy’ pun berusaha ditampilkan oleh mereka. Hal ini dapat dirasakan dari tempo lagu yang sedang namun tetap terasa dinamis hingga menjelang akhir di aransemen lagu yang terakhir ini. Solo Piano oleh Tan dan Ame pada Bass pun semakin melengkapi penampilan mereka kali ini. Hingga pada puncaknya, permainan Improvisasi solo yang ditampilkan oleh Irul pada Saxophone Alto, kemudian disambut oleh Iman pada Saxophone Tenor. Sehingga kolaborasi yang ‘apik’ terwujud di BWJF 2010 kali ini.  Sungguh sebuah penampilan yang sayang untuk dilewatkan.

KOLEGIUM MUSIKUM UNIMED - BWJF 2010





KOLEGIUM MUSIKUM UNIMED
“PESONA GONDANG BATAK DI BWJF 2010”
OLEH Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik UNPAS)
        
+++++

    Gondang dalam masyarakat Batak Toba berarti pula sebagai komposisi lagu dan juga se-perangkat Instrumen Tradisional khas Sumatera Utara, seperti Taganing, Sarune, Oloan dan Hasapi yang dipergunakan pada saat menari  atau ‘Manortor’ dalam sebuah upacara adat suku Batak yang berupa ‘Upacara Ritual atau Syukuran’. Adalah Kolegium Musikum Unimed, yang merupakan sebuah komunitas musik yang berasal dari sebuah Institusi pendidikan yakni Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang berada di wilayah Sumatera Utara, menampilkan ‘Gondang Batak’ di event BWJF 2010 yang diadakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung (06/11/2010) kali ini.

    Kolegium Musikum Unimed tampil di event BWJF 2010, membawakan tiga buah aransemen lagu, dengan mengusung jenis musik Jazz Kontemporer, yang kemudian disebut dengan ‘World Jazz’, karena di dalamnya terdapat sebuah konsep perpaduan yang unik antara musisi, komposisi, dan juga Instrumen musik modern dan tradisional yang dimainkan, sehingga memiliki ciri khas tersendiri saat ditampilkan. Dengan jumlah personil sebanyak delapan orang yang merupakan gabungan antara mahasiswa dan juga dosen dari UNIMED, yang diantaranya adalah, Mukhlis Hasbullah pada Instrumen Piano Elektrik, Bondan Situmorang pada Instrumen Tiup Sarune (sejenis Suling namun bentuknya lebih kecil), Sulim (sejenis Suling dengan bentuk yang lebih besar) dan Oloan (sejenis Goong kecil), Erwin Sianturi pada Instrumen Bass Elektrik, Wawan pada Instrumen Perkusi Conga, Hari Pasaribu pada Drum, Ari Hamdani pada Instrumen Taganing, dan juga Ginting pada Instrumen Hasapi.

    ‘Pesona’ dari Gondang Batak yang dihasilkan dari beberapa Instrumen tersebut, nampak begitu nyata terasa saat Kolegium Musikum Unimed tampil membawakan aransemen mereka di lagu pertama kali ini secara Instrumental (iringan tanpa vokal). Hembusan melodi dari Instrumen Sarune dan Sulim yang ditiup secara bergantian oleh Bondan Situmorang, menghasilkan suara yang panjang dan memiliki kesan ‘magis’ saat dimainkan. Suara latar yang dihasilkan tersebut, kemudian disambut oleh petikan dari Instrumen Hasapi yang memainkan melodi ber-nuansa Tradisional khas Batak, yang selanjutnya dibalut dengan nuansa modern yang dihasilkan oleh Mukhlis Hasbullah pada Instrumen Piano Elektrik, Erwin Sianturi pada Instrumen Bass Elektrik dan Hari Pasaribu pada Drum. Dibawakan dengan tempo sedang, yang kemudian di iringi oleh Ari Hamdani pada Instrumen Taganing sebagai pemberi ritme, yang ternyata berfungsi juga sebagai pembuat melodi yang bersifat perkusif. Hal ini seakan memberi semangat tersendiri di aransemen lagu pertama ini.

    Berbeda dengan aransemen sebelumnya, pada lagu penutup yang berjudul “Viking Jazz” ini, Kolegium Musikum Unimed berusaha menghadirkan kesan berbeda pada warna musik Jazz Kontemporer yang dihasilkan dari Gondang Batak di event BWJF 2010 kali ini. Lagu ini juga merupakan lagu yang untuk pertama kalinya dibawakan oleh mereka pada event BWJF 2010 kali ini. Begitulah kira-kira pengakuan Mukhlis sesaat sebelum mereka perform. Suara latar yang dihasilkan oleh Instrumen Sarune, Hasapi, Taganing, dan Conga kemudian diisi oleh Improvisasi solo Piano Elektrik yang dimainkan oleh Mukhlis dengan pemilihan sound jenis ‘Moog’.

    Seakan tak mau kalah dengan rekannya, di pertengahan lagu yang terakhir ini, wawan pada Instrumen Conga melakukan sebuah Improvisasi solo, yang kemudian dilanjutkan oleh Improvisasi solo Drum oleh Hari Pasaribu yang membuat penampilan dari Kolegium Musikum Unimed di event BWJF 2010 kali ini semakin lengkap dan unik. Begitu pula dengan Bondan Situmorang yang kali ini berpindah ke Instrumen Oloan yang perannya bersifat ritmis, dan memberi variasi tambahan pada aransemen yang mereka tampilkan kali ini.

    Secara keseluruhan penampilan dari Kolegium Musikum Unimed di event BWJF 2010 kali ini cukup baik, hadir dengan memberikan ide, warna, wawasan serta identitas tersendiri di event BWJF 2010, dengan mengusung jenis musik Jazz Kontemporer yang berbeda dari Jazz Kontemporer yang pernah kita dengar sebelumnya. Alhasil ‘pesona’ dari Gondang Batak pun mampu menghipnotis penonton yang hadir saat itu. Bravo !! (DM/2011)

SARASVATI - BWJF 2010








SARASVATI
“MUSIK ELEKTRONIK DENGAN SENSASI MISTIS”

OLEH   Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik UNPAS)


+++++

Pada hari pertama pergelarannya, event Bandung World Jazz Festival (BWJF) 2010 yang di adakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung kali ini (06/11/2010), menampilkan beberapa talent yang sudah pasti memiliki kemampuan bermusik yang baik dan tidak ‘asal jadi’. Hal ini tentu saja didukung oleh kemampuan individu dari masing-masing personil, dan juga proses kreatif yang terjadi saat mereka perform di atas panggung. Diantara dari sekian banyak talent yang tampil di hari pertama ini, adalah Sarasvati, yang mampu menghasilkan kesan berbeda bagi penonton yang hadir kala itu. Tidak hanya secara musikalitas, melainkan juga attitude, serta aksi panggung yang cukup baik berusaha ditampilkan pada saat perform. 

Dengan dibalut kostum serba warna hitam, kesan ‘gelap dan mistis’ pun muncul seketika dalam benak saya. Sarasvati ternyata merupakan sebuah ‘solo project’ yang mengambil nama dari nama belakang vokalisnya sendiri, yaitu Risa Saraswati. Memiliki format band plus Synthesizer, juga menggunakan perangkat Keyboard MIDI Controller , serta tiga orang pemain tambahan pada Instrumen Biola dan Instrumen Cello yang tergabung di dalam “Bohemian Ansamble”. Dengan mengusung jenis musik Pop Ballad dan memiliki tekstur Polyphonic (lebih dari satu suara), menggunakan vokal sebagai media utamanya, yang kemudian dibantu oleh backing vokal yang berjumlah tiga orang, yang satu diantaranya adalah Muhammad Tulus, Sarasvati pun berusaha menampilkan identitas musik tersendiri di event BWJF 2010.

Tampil dengan penuh percaya diri, dengan membawakan total tujuh buah lagu pada kesempatan kali ini diantaranya adalah Kereta Malam, Fighting Club, Oh I Never Know, Question, Bilur, Cut and Paste dan Story Of Petter. Sarasvati berusaha menerjemahkan musik mereka ke dalam unsur elektronik yang dihasilkan dari sound yang berasal dari Instrumen Keyboard MIDI Controller. Penambahan efek sound Synth Pad , terjadi pada saat Sarasvati tampil di lagu ke empat-nya yang berjudul “Question”. Di aransemen lagu ke empat ini terasa suasana ‘gelap’ yang banyak di dominasi oleh penggunaan efek sound Synth Pad sebagai latar belakangnya, kemudian didukung pula oleh warna vokal dari Risa yang memang memiliki karakter yang tidak jauh berbeda pula. Alhasil sensasi mistis dan elektronik pun dapat dirasakan oleh penonton yang hadir pada malam itu sekitar pukul 22.00 WIB.

Berbeda dengan lagu yang ditampilkan sebelumnya, kali ini pada lagu ke enam-nya yang berjudul “Bilur”, Sarasvati menampilkan tiga orang pemain Instrumen tradisional khas Jawa Barat, yakni Kecapi dan suling yang mengiringi alunan vokal dari Risa. Nuansa etnik tradisional pun muncul seketika, manakala di pertengahan lagu, muncul seorang penyanyi sinden lokal yang bernama Ambu Ida Widawati, yang menyanyikan ‘Lalaunan’. Suasana panggung pun berubah seiring perubahan warna pada tata cahaya lampu panggung pada saat itu. Sungguh unik, sekaligus memperkaya bentuk musik dari Sarasvati itu sendiri. Apalagi pada saat yang hampir bersamaan, hadir pula dua orang wanita penari latar yang mengenakan kostum selendang, menampilkan jenis “Tarian Burung Merak” . 

Penampilan oleh Sarasvati pada event BWJF 2010 kali ini ditutup dengan sebuah lagu yang berjudul “Story Of Petter”. Menceritakan tentang seorang anak yang menjadi ‘teman khayal’ dari Risa semasa kecil dulu, begitu pengakuannya sesaat sebelum perform. Dengan memadukan aksi teatrikal di dalamnya, Sarasvati kali ini menampilkan bentuk lain dari musik yang mereka bawakan. Secara keseluruhan, penampilan Sarasvati kali ini sudah cukup baik. (DM/2011)
       

       




Rabu, 15 Desember 2010

Bandung World Jazz 2010 "Sound Through The Dimension"


BANDUNG WORLD JAZZ FESTIVAL 2010
“SOUND THROUGH THE DIMENSION”



Latar Belakang

             Musik adalah hal yang tidak mempunyai wujud akan tetapi bisa kita rasakan dan dengar melalui bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh individu atau sekelompok orang kemudian disajikan sebagai bentuk kesenian yang dapat dinikmati dan di apresiasi. Musik merupakan bahasa seni universal yang dapat dengan mudah diterima oleh siapa saja, karena sifatnya  yang flexible atau bisa saja berubah sesuai dengan lokasi, sejarah dan budaya dimana tempat ia berasal. Musik juga dapat mempengaruhi jiwa seseorang yang mendengarkannya.

             Dalam perkembangannya, musik dimulai pada zaman kuno yang belum memiliki bentuk dan ciri khas, muncul seiring berkembangnya peradaban manusia. Baru setelah pada zaman sejarah, manusia mampu mengenal dan menciptakan alat musik yang digunakan untuk upacara ritual untuk menyembah dewa-dewi. Kemudian berlanjut ke musik zaman abad pertengahan,  renaissance, baroque, klasik, romantic, modern. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan keanekaragaman alat musik, berbagai macam jenis musik pun diklasifikasikan menjadi beberapa genre yaitu pop, rock, jazz, metal, dangdut, keroncong, klasik, blues dan masih banyak lagi.

              Diantara sekian banyak genre musik diatas, adalah jazz merupakan sebuah genre musik yang unik, mengusung spontanitas, improvisasi, kreatifitas serta imajinasi yang kuat untuk memainkannya. Hal-hal yang ditawarkan oleh jazz inilah yang menjadi acuan bagi Jendela Ide Sabuga (Event Organizer) untuk mengadakan event tahunan seperti “Bandung World Jazz Festival 2010”.


       Bandung World Jazz Festival 2010 kali ini mengangkat tema “Sound Through The Dimension” yang memiliki arti bunyi yang akan melampaui batas-batas dimensional, ruang dan waktu, wilayah, ras dan juga peradaban (www.bandungworldjazz.com).

        Tema demikian diangkat dengan harapan bahwa event ini dapat memperkaya dan menjadi sebuah identitas baru bagi para musisi untuk dapat berbicara lebih jauh di dalam sebuah dialog budaya global. Dengan kata lain event ini tidah hanya menawarkan euphoria atau perayaan semata, melainkan sebuah wacana baru bagi pertumbuhan musik baru dalam mewujudkan identitas masing-masing, sehingga karya yang dihasilkan akan semakin kuat karena disana terjadi kesepakatan bunyi, dan hal itu akan melampaui semua batasan-batasan yang hanya mampu dinikmati dan dirasakan oleh perasaan.

      Bandung World Jazz 2010 sendiri diselenggarakan selama dua hari yakni pada tanggal 6 dan tanggal 7 November 2010 di Gedung Sasana Budaya Ganesha-Bandung. Menampilkan sekitar lima puluh musisi baik dari dalam maupun luar negeri, seperti :

-          UPI ELBE BIGBAND (INDONESIA)
-          MALIRE/STISI (INDONESIA)
-          IMAM BARATA (INDONESIA)
-          PESISIR ENSEMBLE & JENDELA IDE MODJEMBE (INDONESIA)
-          LA GANDIE (INDONESIA)
-          KOMUNITAS JAZZ KEMAYORAN (INDONESIA)
-          GILANG RAMADHAN (INDONESIA)
-          SARATUS PERSEN (INDONESIA)
-          DAVID MANUHUTU (INDONESIA)
-          IDHI & ARCHIPELAGO BAND (INDONESIA)
-          CASTAVARIA(INDONESIA)
-          SONI AKBAR feat KARINDING ATTACK (INDONESIA)
-          KOLESIUM MUSIKUM UNIMED (INDONESIA)
-          AGUNG PRASTEYO feat FARAH DI (INDONESIA)
-          DUO MAURINO-TAUFIC (ITALIA)
-          LAGALIGO SYNDICATE (INDONESIA)
-          KARINDING COLLABORATION PROJECT (INDONESIA)

-     UNY/STUPA ETMO CONTEMPORER (INDONESIA)
-     JOAN & THE JESSELTONE (MALAYSIA)
-      IMELDA ROSALIN feat SUDJIWO TEDJO (INDONESIA)
-      BWJ for YOUTH (INDONESIA)
-      FIFTEEN PLUS (INDONESIA)
-      MODJEMBE (INDONESIA)
-      JAZZY ONE (INDONESIA)
-      INDONESIAN YOUTH REGENERATION (INDONESIA)
-      GANG SADEWA (INDONESIA)
-      PRABUMI (INDONESIA)
-      BARAYA feat EUIS KOMARIAH
-      AKORDION (INDONESIA)
-      ETNOMISSION/TOHPATI (INDONESIA)
-      KOKO HARSOE (INDONESIA)
-      DONI SUHENDRA PROJECT feat BALAWAN (INDONESIA)
-      BARRY LIKUMAHUWA (INDONESIA)
-      CONTINENTAL JAZZ CROSSOVER PROJECT (AUSTRALIA)
-           

      Menampilkan panggung utama yang dibagi menjadi tiga bagian panggung, dengan tidak membedakan posisi dari keberadaan panggung tersebut.


SUASANA HARI I  (6 November 2010)
BANDUNG WORLD JAZZ FESTIVAL (BWJF) 2010


       Di hari pertama pergelarannya, BWJF 2010 mengalami sedikit keterlambatan jadwal rundown acara, yakni seharusnya dimulai pukul 10.00 WIB, namun berubah jadwal karena ada kesalahan teknis sistem audio dari pihak panitia penyelenggara. Alhasil banyak kendala yang ditemukan di lapangan menyangkut hal tersebut. Perubahan jadwal inipun tidak diberitahu oleh pihak panitia kepada penonton yang sudah membeli tiket seharga (Rp.75.000,-) untuk umum dan (Rp.50.000,-) untuk mahasiswa dan pelajar.

              

Namun hal yang bersifat teknis demikian tidaklah menghambat antusias penonton untuk hadir dalam event yang sudah dua kali digelar di kota Bandung tersebut. Setelah mengalami keterlambatan jadwal yang cukup lama yakni hampir sekitar dua jam, akhirnya grup pertama yang mengawali event BWJF 2010 kali ini adalah Malire (STISI) yang tampil cukup menghibur di hari pertama. Walaupun saat itu penonton yang datang masih sangat sedikit, namun Malire tetap berusaha tampil maksimal demi memeriahkan event BWJF 2010 kali ini. Membawakan sekitar lima buah lagu dengan komposisi yang cukup baik,  bernuansa etnik kontemporer Jawa Barat, grup yang berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Seni Indonesia Bandung ini mampu mengawali acara dengan cukup baik mampu mencuri perhatian penonton juga media pada perhelatan BWJF 2010 kali ini.

     Menampilkan sekitar 18 grup seperti : Malire (STISI), UPI Elbe Bigband, Imam Barata, Pesisir Ensemble & Jendela Ide Modjembe, La Gandie, Komunitas Jazz Kemayoran, Gilang Ramadhan, SaratusPersen, David Manuhutu, Idhi & Archipelago Band, Castavaria, Soni Akbar feat Karinding Attack, Kolessium musikum UNIMED, Agung Prasetyo feat Farah Di, Duo Maurino-Taufic, de Lagaligo Syndicate, Karinding Collaboration Project, Continental Jazz crossover Project.
 





             











BWJF 2010 di hari pertama ini di dominasi oleh musisi dan grup yang berasal dari Indonesia. Baru pada sekitar pukul 21.00 WIB tampil sebuah duo yang memikat perhatian saya, yakni Duo Maurino-Taufic yang berasal dari Italia. Penampilan mereka sangat menghibur, karena hanya mengandalkan dua buah instrument, yakni saxophone dan klasik gitar yang dibalut dengan irama latin ala Brazil mampu menghadirkan komposisi jazz kontemporer yang sangat apik dengan efek percussive di dalamnya. Mereka membawakan sekitar enam buah lagu yang diselingi oleh sapaan ramah dari keduanya kepada penonton yang memang cukup memadati Gedung Sasana Budaya Ganesha pada malam itu.


SUASANA PADA HARI 2  (7 November 2010)
BANDUNG WORLD JAZZ FESTIVAL (BWJF) 2010

             Lagi-lagi di hari keduanya, BWJF 2010 mengalami keterlambatan jadwal rundown acara, yang mengakibatkan banyak penonton yang agak sedikit kecewa dengan adanya masalah teknis ini. Diawali oleh workshop yang menampilkan narasumber Continental Jazz Crossover Project yang melakukan demo pada permainan bass, keyboard, drum, yang di kolaborasi bersama dengan kendang khas Jawa Barat. Pada workshop kali ini narasumber berusaha untuk melibatkan penonton agar terjadi keakraban dan interaksi antara artis dengan peserta workshop. Namun lagi-lagi pada saat workshop, panitia seakan kehilangan koordinasi dengan narasumbernya, hal ini dibuktikan ketika penyediaan alat yang diminta oleh narasumber tidak bisa dipenuhi oleh panitia acara bagian talent. Akan tetapi acara workshop tetap berjalan dengan baik walaupun tempat dan waktu yang disediakan amat terbatas.

             Setelah workshop usai, tibalah giliran Uny/Stupa Etmo Contemporer  untuk tampil mengawali BWJF 2010 di hari kedua ini pada panggung utama sekitar pukul 14.00 WIB yang sebelumnya diawali oleh break adzan dzuhur terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan oleh sekitar 15 grup seperti : Joan & The Esseltone, Imelda Rosalin feat Sudjiwo Tedjo, BWJ Youth, Fifteen Plus, Modjembe, Jazzy One, Indonesian Youth Regeneration, Gang Sadewa, Prabumi, Akordion, Etnomission/Tohpati, Koko Harsoe, Doni Suhendra Project feat Balawan, Barry Likumahuwa.

             Di pertengahan acara di hari kedua ini, ada sebuah renungan yang dipimpin oleh Djaelani (Kurator Bandung World Jazz 2010) untuk memperingati korban dari bencana alam yang akhir-akhir ini melanda negeri kita yang tercinta ini. Alhasil suasana pada malam itu berubah menjadi hening seiring dengan adanya renungan pada malam itu yang memang dipadati oleh penonton yang jumlahnya lebih besar dibanding pada hari pertama.


             

 Akhirnya Doni Suhendra dan I Wayan Balawan menutup rangkaian acara BWJF 2010 kali ini dengan membawakan sekitar lima buah lagu dengan nuansa kontemporer etnik khas Bali yang cukup apik, menawan, walaupun sepi penonton di akhir acara, karena telah melewati batas schedule yang direncanakan sebelumnya oleh panitia. Sehingga jadwal dan waktu acarapun menjadi ‘molor’ hingga larut malam, bahkan menjelang pagi. (DM/2011)

David Manuhutu - BWJF 2010


DAVID MANUHUTU
“SEBUAH GRUP TRIO JAZZ DI BWJF 2010”
OLEH Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik UNPAS)


+++++

      Di hari pertama pergelarannya (06/11/2010), event Bandung World Jazz Festival (BWJF) 2010 yang diadakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung kali ini, menampilkan seorang Pianis muda berbakat yang pada tahun ini genap berusia 18 tahun. Adalah David Melchias Manuhutu, yang juga merupakan putra dari pasangan musisi Jazz kenamaaan yaitu Vence Manuhutu dan Refiana Ertini. Ia pun  memiliki segudang prestasi diantara lain adalah dengan mengikuti festival piano di Montreaux Piano Jazz Festival (2008) dan juga pernah tampil pada event Internasional Java Jazz Festival (2009). Adapun pada keikutsertaannya pada event BWJF 2010 kali ini, ia hadir dengan sebuah solo project yang memiliki format grup Trio Jazz, yang terdiri dari Arifan pada Instrumen Drum, Rudy Zulkarnaen pada Instrumen Contra Bass dan David Manuhutu sendiri pada posisi Piano Elektrik, dimana ia lebih mengedepankan jenis musik Instrumental Jazz atau tanpa iringan vokal. Tampil dengan membawakan tiga buah lagu pada event BWJF 2010 kali ini, David berusaha mensejajarkan dirinya dengan para talent yang telah lebih dahulu berkecimpung di dunia musik Jazz. Yakni dengan menciptakan dan mengaransemen sendiri tiga buah lagu yang dibawakan olehnya di panggung BWJF 2010 kali ini.

            Pada lagu pertamanya, yang berjudul Bumi Asri, David berusaha merebut perhatian penonton dengan  menampilkan sebuah jenis musik Bebop, yang dibawakan dengan tempo agak cepat. Alunan melodi pada Piano Elektrik yang dimainkannnya pun memiliki nuansa tradisional khas Jawa Barat dengan banyak menggunakan skala nada pentatonik tradisional, yaitu Salendro, yang dipadukan dengan ‘Running Bass’ khas Bebop yang dihasilkan dari permainan Contra Bass oleh Rudy, serta di jaga pola ritmik-nya  oleh permainan Drum yang matang dari Arifan. Alhasil di lagu pertamanya ini kemampuan seorang David Manuhutu bersama grup ‘Trio’ nya di dalam mengolah nada dan juga solo Improvisasi melodi pada Piano Elektrik-nya pun di apresiasi dengan baik oleh penonton BWJF 2010 yang memang sejak awal menunggu penampilannya.

            Berbeda dengan lagu sebelumnya, di lagu keduanya yang berjudul Ritmiko ini, David Manuhutu bersama grup ‘Trio’ nya, berpindah posisi dari Instrumen Piano Elektrik ke Instrumen Pianika yang telah dipersiapkan di atas panggung sebelumnya. Dengan mengusung jenis musik Fusion Jazz, David menampilkan sebuah aransemen ‘unik’ dengan menampilkan sebuah jenis musik yang di dalamnya terdapat kebebasan serta Improvisasi dari seorang musisi (baca: World Jazz) yang dijaga guna menjadi sebuah ciri dan identitas di dalam dirinya. Di dalam aransemen lagu Ritmiko ini pula terdapat kesatuan bunyi antara melodi yang dihasilkan oleh David pada Instrumen Pianika yang bernuansa Tradisional Jawa Barat, juga pada permainan Contra Bass oleh Rudy serta pola ritmik yang rapih dan matang yang dihasilkan oleh Arifan pada Drum. Sebuah karya baru berusaha dihadirkan di tengah panggung BWJF 2010 kala itu, dengan mengawinkan budaya dan Tradisi Jawa Barat dan Modern yang dihasilkan oleh melodi pada Instrumen Pianika dari David dan grup ‘Trio’ nya pada aransemen di lagu kedua ini. 

            Pada penutupannya, sebuah lagu yang berjudul Foot Prints dibawakan dengan baik oleh David bersama grup ‘Trio’ nya. Menghadirkan jenis musik Latin pada aransemen di lagu terakhirnya kali ini, David kembali ke posisi semula nya pada Instrumen Piano Elektrik. Diikuti pula oleh Rudy pada Instrumen Contra Bass-nya, yang kali ini menampilkan gaya permainan Contra Bass yang memiliki ‘groove’ khas Latin. Solo Improvisasi pun ditampilkan oleh Arifan pada Drum nya kali ini. Secara keseluruhan penampilan dari grup ‘Trio’ David Manuhutu pada event BWJF 2010 kali ini cukup baik, dengan berusaha menampilkan sebuah gaya bermusik yang memiliki sebuah ciri khas tersendiri, serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang menikmatinya.

            Sekali lagi, dengan keikut-sertaan David Manuhutu Trio pada event BWJF 2010 kali ini, mematahkan asumsi orang kebanyakan terhadap musik Jazz, yaitu musik Jazz hanya dapat dimainkan oleh orang dewasa saja. Hal demikian jelas memotivasi dirinya untuk terus mengembangkan bakat serta kemampuan musikalitasnya, agar bisa disejajarkan dengan musisi Jazz tanah air yang telah lebih dulu ada. Ia mengakui, bahwa gaya permainannnya banyak diperngaruhi oleh musisi Jazz luar, seperti Keith Jarret, Herbie Hancock, dan juga musisi Jazz tanah air seperti Indra Lesmana, dan juga musisi Jazz senior seperti Bubi chen. David berhasil membuktikan ‘eksistensi’ nya dengan tampil pada event BWJF 2010 kali ini.  Bravo !!

CASTAVARIA (BWJF 2010)


CASTAVARIA

“SEBUAH HARMONISASI DARI INSTRUMEN BASS DI BWJF 2010”
OLEH Denny Martha (Mahasiswa FISS Jurusan Seni Musik Unpas)



+++++

            Sebuah suguhan serta penampilan ‘unik’ ditampilkan pada event BWJF 2010 yang diadakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung (07/11/2010) kali ini. Adalah Castavaria, sebuah komunitas dari para pemain Instrumen Bass yang tergabung ke dalam sebuah grup yang berada di sebuah Institusi Pendidikan di kota Bandung, yakni Jurusan Seni Musik Universitas Pasundan. Dengan beranggotakan sebanyak enam orang yang sampai saat ini masih berstatus sebagai Mahasiswa Unpas, diantaranya adalah : Rennga, Sadut, Angga dan Luthfi pada Instrumen Bass, Urip pada Instrumen Conga yang juga bertindak sebagai Disc Jockey (DJ), serta Aji pada Instrumen Drum. Tampil dengan membawakan sekitar empat buah lagu, Castavaria berusaha menampilkan konsep yang berbeda diantara banyak talent yang tampil pada event BWJF 2010 kali ini. Dengan berbekal Instrumen Bass, Drum, Conga, plus Turn Table, alunan musik yang mereka hasilkan pun terdengar ‘unik’ serta kaya akan Improvisasi dan Harmoni di dalam setiap alunan melodi nya, walaupun tidak mengusung jenis musik Jazz sebagai acuan utamanya, namun sebuah Harmonisasi dari sejumlah Instrumen tersebut tetap hadir di dalam setiap aransemen lagu yang mereka bawakan kali ini di event BWJF 2010.

            Di awali dengan Sound Elektronik yang dihasilkan oleh perangkat Turn Table yang dimainkan oleh Urip selaku DJ, Castavaria memulai lagu pertama mereka kali ini dengan mengusung jenis musik Funk dan dibawakan dengan tempo yang agak cepat.  Alunan melodi Bass yang dimainkan oleh Rengga, Sadut, Angga dan Luthfi secara bersamaan (baca: Solis), mendominasi pada aransemen mereka di lagu pertama ini. Yang kemudian pada pertengahan lagu nya, disisipi sound elektronik jenis ‘Scratch’ pada Turn Table yang dimainkan oleh DJ Urip. Alhasil perpaduan nada antara Instrumen Bass, Drum dan juga sound elektronik yang dihasilkan oleh DJ pun membuat aransemen mereka di lagu pertama ini terdengar cukup khas dan unik.
   
Di lagu kedua dan ketiga nya, Castavaria yang juga pernah menjadi finalis di salah satu ajang ‘adu bakat’ di sebuah stasiun televisi swasta nasional ini, berusaha menampilkan sebuah Harmonisasi yang tak kalah unik dengan lagu sebelumnya, yakni diputarnya sebuah cuplikan suara pidato dari Presiden pertama R.I, yaitu Ir. Soekarno di awal musik nya, yang kemudian muncul bersamaan dengan sound elektronik yang dihasilkan oleh Urip selaku DJ dan juga efek sound ‘delay’ oleh Sadut pada Instrumen Bass. Alhasil penonton yang hadir saat itu semakin dibuat penasaran melihat bagaimana kelanjutan dari penampilan mereka kali ini. Dibawakan dengan tempo yang agak cepat, mereka coba menampilkan jenis musik Funk pada aransemen musik mereka di lagu kedua dan ketiga ini. Improvisasi solo melodi yang dimainkan secara bergantian oleh Rengga, Sadut, dan Luthfi pada Bass pun semakin menambah semarak penampilan mereka di atas panggung BWJF 2010 kali ini. Apalagi saat Urip berpindah posisi dari seorang DJ menjadi pemain Instrumen Conga dan memainkan sebuah Improvisasi solo yang ditampilkan cukup baik kali ini.

            Pada lagu penutup, Castavaria yang saat itu menggunakan kostum kemeja putih sebagai ‘dress code’ nya, menyuguhkan jenis musik yang hampir sama dengan tiga lagu sebelumnya, yakni jenis musik Funk, namun dibawakan dengan tempo sedang dan ber irama riang serta terkesan lebih ceria bila dibandingkan dengan tiga lagu yang dibawakan sebelumnya. Dengan berlatarkan ritmik dari Instrumen Conga yang dimainkan oleh Urip, Castavaria berusaha tampil maksimal di penghujung penampilannya di panggung BWJF 2010 kali ini. Improvisasi solo melodi pada Bass pun secara bergantian dimainkan oleh Rengga, Sadut, Luthfi dan juga Angga. Disusul kemudian, ketika menjelang akhir dari lagu sebuah Improvisasi solo ditampilkan oleh Aji pada Instrumen Drum. 

            Kemampuan, serta kelebihan mereka di dalam meng-aransemen ke empat lagu yang dibawakan di panggung BWJF 2010 kali ini, tak ayal lagi mendapat sambutan hangat dari penonton yang hadir kala itu. Dengan hanya bermodalkan Instrumen Bass sebagai media musiknya, Castavaria mampu menghadirkan sebuah Sinkopasi ritmik dan juga alunan melodi yang Harmonis diantara keterbatasan Instrumen atau alat musik yang mereka gunakan. Hal ini jelas membuktikan, bahwa sebuah Instrumen Bass yang selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap saja, ternyata dapat pula menghasilkan sebuah musik yang harmonis dan juga cukup berkualitas bila dipandang dari sisi musikalitas-nya.  Salute !! (DM)